Malaysia – Mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) turut berkontribusi dalam memperkenalkan warisan budaya Indonesia melalui kegiatan Cultural Exchange Craft yang merupakan bagian dari program International Experiential Learning (IEL). Kegiatan tersebut berlangsung di Kampung Pasir Salam, Malaysia, pada Kamis (15/10/2026), dengan mengusung semangat pertukaran pengetahuan dan pengenalan tradisi antara masyarakat Indonesia dan Malaysia.

Program ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menampilkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus mempelajari tradisi masyarakat Malaysia. Berbagai unsur budaya diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari produk kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di masing-masing negara.
Lima mahasiswa UPGRIS yang berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah Syifa Ummy Aiman, Anita Muhits, Indah Sulistyo Mukti, Miftahus Surur, dan M. Ibnu Sifa. Mereka membawa tiga produk yang merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia, yakni batik Yogyakarta, emping melinjo dari Kabupaten Batang, Jawa Tengah, serta besek yang dikenal sebagai kerajinan anyaman berbahan dasar bambu.
Dalam sesi pengenalan budaya, mahasiswa memaparkan batik Yogyakarta sebagai warisan budaya yang kaya akan ragam motif dan makna filosofis. Selain memiliki nilai estetika, setiap motif batik juga mencerminkan nilai serta identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sementara itu, emping melinjo diperkenalkan sebagai salah satu produk pangan tradisional khas Kabupaten Batang yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner Jawa Tengah.

Produk berikutnya adalah besek, kerajinan tradisional yang menunjukkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan-bahan alami menjadi benda yang memiliki fungsi praktis. Pengenalan ketiga produk tersebut menjadi bentuk upaya mahasiswa dalam memperluas apresiasi masyarakat internasional terhadap keragaman produk budaya Indonesia.
Di sisi lain, mahasiswa UPGRIS juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari kerajinan tradisional masyarakat Kampung Pasir Salam, yaitu tanjang dan samping. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa dapat mengenal lebih dekat bentuk kerajinan lokal Malaysia serta memahami karakteristik tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat setempat.
Keikutsertaan dalam program International Experiential Learning memberikan pengalaman pembelajaran yang tidak terbatas pada ruang kelas. Mahasiswa dapat berinteraksi secara langsung dengan masyarakat dari latar belakang budaya yang berbeda, memperluas perspektif internasional, serta mengasah keterampilan komunikasi dan interaksi lintas budaya.
Selain menjadi sarana pembelajaran, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan globalisasi. Pertemuan antara budaya Indonesia dan Malaysia memperlihatkan bahwa makanan tradisional, kain khas, dan kerajinan lokal dapat menjadi media untuk membangun komunikasi, mempererat hubungan sosial, serta meningkatkan pemahaman antarbangsa.
Melalui kegiatan Cultural Exchange Craft, mahasiswa UPGRIS diharapkan semakin terdorong untuk mengenali, menjaga, dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia. Pertukaran budaya semacam ini sekaligus menjadi langkah untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Malaysia melalui semangat saling menghargai, belajar, dan melestarikan warisan tradisi.



